Menu Tutup

SENANDIKA

Bismillahirrahmanirrahim. Rekan-rekanita tercinta … bersenandika, yuk!

Menurut KBBI, Senandika adalah wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar.

Sebagian menjelaskan senandika sebagai monolog yang lebih menggunakan ‘aku dan kamu’. Dalam kehidupan sehari-hari, bersenandika tanpa disadari sering kita lakukan dengan berbagai proses yang lumrah dari gejala berpikir.

Seperti ibu-ibu yang ngedumel tentang kesibukan rumah tangganya, dia tidak mengajak siapapun berkomunikasi selain dengan dirinya sendiri. Berbicara pada diri sendiri dan menyemangati hati yang sedang ditimbun pekerjaan rumah. Bahkan dengan majunya teknologi pada era milenial ini, banyak orang yang bersenandika dengan statusnya.

Senandika itu lumrah, bagi siapapun yang masih memiliki pikiran dan kehidupan. Tidak hanya untuk tokoh susastra seperti yang dijabarkan oleh Kamus Besar, namun kata ini telah mengalami perluasan makna yang mencakup banyak hal. Disadari atau tanpa disadari, bersenandika adalah ciri kehidupan batiniah yang wajar dan membangun kesadaran akan aktivitas berpikir yang manusiawi.

Hal yang terkait dengan senandika

Menulis sesuai suasana hati

Senandika bisa digunakan untuk meluruskan cara berpikir maupun mengendalikan perasaan. Bahagia yang berlebihan tidak baik, maka dengan bersenandika akan memperdalam makna bahagia, lebih pada mensyukuri. Kesedihan yang mendalam juga tidak baik, maka bersenandika adalah bagian dari menguatkan diri, mengembalikan cara berpikir yang benar.

Menggunakan diksi secara seimbang

Diksi yang sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebihan hingga justru tidak bisa dipahami.

Contoh : Sang Surya menemani perjalananku hari ini menuju sekolah.


Bandingkan dengan ini : Sang Bagaskara muncul dari lelabuhannya, hembusan sarayu bertiup perlahan menerpa kulitku secara perlahan, nabastala biru dan bla bla bla.

Karena bisa jadi bukannya pembaca paham dan tertarik dengan senandika, tetapi pembaca justru kebingungan memahami. Meskipun, setiap penulis mempunya gaya bahasa dan selera yang berbeda-beda, bagi saya menulis itu kepuasan hati yang tak bisa diukur seragam. Bebas saja.

Jangan berbelit-belit!

Maksud dari jangan berbelit-belit di sini ialah, jangan gunakan kata yang sama dalam 1 paragraf.

Contohnya :
Aku suka dengan bunga mawar. Mawar itu sangat cantik dan harum. Bisa dibilang mawar adalah bunga paling menarik.

Bisa diganti seperti ini :
Aku suka mawar. Bunga yang melambangkan kecantikan, sempurna dengan semerbak wanginya.
(Shanti Izzaku)


Renny Azalia
Kiky Rifky

Menggenggam erat segelas kopi hangat sama nikmat dengan memeluk bayangmu, Ren! Sebab pagiku terlalu beku ‘tuk dinikmati bersama kesendirian. Di tiap teguknya ada senyummu yang memaniskan kepahitan kisah antara aku dan bayanganmu. Di tiap butir ampas kopi ada pilihan antara menikmati pahitnya kehidupan (akan) bersamamu atau meninggalkannya.

Pernah dan seringkali kutanyakan pada Tuhanku tentang jodoh dan aku selalu berharap kaulah jawaban dari-Nya. Putus asa pun aku pernah, aku berpaling dari bayangmu dan mencoba ngopi dengan (gelas) yang lain, aku hanya menemukan senyum yang terlalu singkat hingga aku tersadar … tak ada yang sepertimu. Hanya kau yang pantas diperjuangkan sebagaimana perintah Tuhanku dalam surat Yusuf, jangan berputus asa dari Rahmat-Nya.

Di waktu yang terus mengalir sederas Lojahan, hari-hariku sempat diwarnai gadis kampung sebelah yang kukira paling NU dan lebih dari sekadar kamu. Nyatanya, untuk setara denganmu pun terlalu jauh. Bukan aku merendahkan seseorang dan menyanjungmu terlalu berlebihan. Aku masih yakin, kaulah Sumayyah-ku dan kaulah Khadijah-ku serta kaulah Aisyah-ku. Kedermawananmu juga menjadikanmu sebagai Zainab-ku.

Siang hariku, langit Keteleng menangisimu. Lagi-lagi segelas kopi hangatkan semestaku yang jauh dari pandanganmu. Kaupun menangisi Tombo seolah kau dan negeri hijau ini saling menangisi satu sama lain. Saat kau merindu Keteleng-ku, ketahuilah bahwa negeri ini sedang berduka karena ulah mereka yang ingin merusak hijau negerimu, Ren! Tapi tenanglah, aku selalu di belakangmu dalam memperjuangkan kisah tanpa preambule ini.

Sayangnya kau tak suka kopi, Ren! Padahal aku selalu bersama kopi yang hitam pekat nan pahit untuk sedikit menahan kerinduanku yang jauh darimu. Dari kopi juga aku belajar bersabar, betapa pahitnya mengagumimu. Tapi sepahit apapun, aku akan menikmatinya sebagaimana menikmati kopi, dan kebahagiaannya akan terbayar nanti, di KUA atau di surga. Merindukanmu seperti hukuman dari Tuhanku sebab kelancanganku meminta sesuatu yang tak pernah dimiliki Tuhanku.

Kamis kembali jatuhkan tangis, kali ini tangis bahagia sebab hujan datang membawa tanya dari surga. Siapkah kau menghuninya (bersamaku)? Dan aku mengimpikan hujan yang lain aku menikmati teh atau kopi denganmu, Ren! Menghitung butiran air yang jatuh, menebak bentuk awan di langit, dan memberanikan diri bertanya, “Kenapa kopiku manis, Ren?”

Ren, ketahuilah! Saat aku berkata bahwa aku rindu Hanna, kaulah yang sebenarnya kurindukan. Hanna menjadi pemanis suasana hati. Kau tau? Ibuku juga hafal dengan Hanna sebab tiap kau upload foto Hanna, aku selalu menyimpan dan kujadikan story WA. Aku selalu berdoa, semoga Hanna juga menjadikeponakanku suatu saat nanti.

Ren, pulanglah! Aku butuh pashminamu untuk sembunyikan gelisah, menutup duka-duka dan menukarnya dengan senyum. Aku perlu banyak senyum untuk bersedekah. Kau tahu sendiri, aku tak punya uang untuk disedekahkan, bahkan jika kau berkenan, pinjami aku mimpimu biar kusenyumkan semestaku dengan senyum yang tak bisa kau dapati di surga sekalipun, senyum yang lebih dari sekadar senyum bidadari.

Tiba-tiba rindu tiba, tak kuasa kutulis senandika, elegi, atau apapun itu, namamu sudah kusebut di hadapan Allah ketika aku merasa segala perjuangan dan ikhtiarku sia-sia, kupasrahkan segalanya usai letihku berjuang tanpa kau lihat, cukup Allah yang melihat perjuanganku.

Aku meminta jiwamu dari Allah melalui seluruh wasilah yang kutahu, diantaranya wasilah doa ibu yang mustahil tertolak. Jika Allah tak mengabulkan doa ibu untuk anaknya, lalu aku akan menyalahkan siapa? Allah tak pernah mengingkari janjinya, kan, Ren?

Story WA-mu penuh dengan suasana Tombo, tapi kau juga post foto suasana MWC, aku tak peduli di manapun kau berada. Aku akan tetap merasa tenang selama kau masih berada dalam lindungan dan naungan Rahmat-Nya. Tak lupa kau juga upload foto-foto parcel disertai ucapan terima kasih. Ada firasat, itu lamaran dari pacarmu. Jika memang benar, aku akan belajar untuk pura-pura bahagia di atas kebahagiaaanmu. Aku tak apa-apa, aku punya Allah. Itu saja.

Ada meme yang menghiburku, “Sekarang kau bebas dengan pacarmu, tapi kalo Tuhan menetapkan kau jadi jodohku, pacarmu bisa apa?” Tak apa, aku punya banyak teman. Aku akrab dengan kesendirian, aku bersahabat dengan sunyi, aku sekamar dengan gelisah, berkawan lama dengan sakit. Mereka akan berkumpul seluruhnya ketika aku merindukanmu.

Bisa kau ambil kesimpulan, Ren! Saat aku merindukanmu … aku sakit, sendirian, sunyi, dan gelisah yang terkadang membuatku kehilangan Tuhan. Dan kini kutemukan Tuhan di senyummu yang berserak di sajadahku. Katakan padaku! Kau akan kembali walau hanya dalam mimpi (Wali).
Bandar, 21-12-‘21

Penulis : Kiky Rifky
Editor : Maschun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *