Menu Tutup

Kajian Cinta #7: Terjebak Toxic Relationship?

Apakah kamu selalu merasa resah? Merasa tidak aman? Direndahkan? Menjadi objek amarah pasangan? Jika iya, mungkin saja loh kamu berada dihubungan toxic relationship. Kondisi seperti itu tidak bosa dianggap sepele loh, itu juga bisa berdampak bagi kesehatan dan psikologi kalian.

‘engga ko, dia kaya gitu karena dia sayang sama aku. Itu salah aku juga ko’

            Parahnya orang yang berada didalam hubungan toxic relationship selalu denial bahwa bereka berada dihubungan yang tidak baik. Mereka cendering diliputi rasa bersalah dan keterikatan bodoh yang sepertinya tidak akan bisa terlepas. ‘ingatlah seharusnya tidak ada pengecualian bagi siapapun yang membuat kamu menderita’. Kenapa kamu begitu tegas dengan orang lain yang membuat kamu menderita, tetapi tidak untuk dia?(ini bisa berarti siapapun, bisa masangan, keluarga, teman dll).

            Sebelum membahas lebih jauh, selamat datang di kajian cinta 7. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi temen-teman ya hehe. Jadi apasih toxic relationship itu?. Toxic relationship atau hubungan beracun adalah istilah untuk menggambarkan suatu hubungan tidak sehat yang dapat berdampak buruk bagi keadaan fisik maupun mental seseorang. Dalam sebuah hubungan, idealnya setiap individu akan saling menyayangi, mengasihi dan memberikan rasa aman. Namun pada toxic relationship, salah satu pihak biasanya akan berupaya mendominasi pihak lainnya.

            Apa saja sih bahaya toxic relationship bagi kesehatan? Selain menurunkan harga diri toxic relationship biasanya membuat seseorang mengalami gangguan mental, kecemasan, stres, depresi. Beban mental yang dialami juga bisa menyebabkan gangguan fisik seperti gangguan psikosomatik. Oleh karena itu kenapa seseorang yang baru saja keluar dari toxic relationship biasanya akan mengalami trauma dengan hubungan yang baru. Akan menjadi sangat berbahaya jika kita terlarut dalam hubungan toxic relationship. Jadi yok kenali ciri-ciri toxic relationship berikut agar kita menjadi lebih selektif dalam pola hubungan kita hihi.

  1. Selalu Dikontrol Oleh Pasangan

            Tanda yang paling terlihat jelas dari toxic relationship adalah salah satu pihak selalu mengontrol pihak lainnya. Menurut saya dalam kasus controling pasangan ini bisa dibedakan menjadi dua, yaitu controling yang baik dan controling yang buruk. Terkadang untuk menjadi individu yang lebih baik kita bisa saja meminta pasangan kita yang mungkin lebih berpengalaman demi peningkatan kualitas diri kita. Yang tentu saya tidak melupakan hak privasi dan prerogatif diri kita sendiri, dan tentu saja hal tersebut tidak akan membuat kita terusik dan merasa dirugikan. Oleh karena itu hal semacan ini disebut controling yang baik.

            Nah bagaimana dengan controling yang buruk? Hal seperti ini terjadi jika ada salah satu pihak yang dirugikan dalam sebuah hubungan. Entah itu mereka akan merasa atau tidak, karena cenderung seseorang yang berada dalam toxic relationship akan tidak sadar bahkan mengalami penyangkalan dan merasa itu adalah hal yang lumrah. Kasusnya seperti apa? Kita di atur-atur mau kemana, tidak boleh megikuti kegiatan apa, tidak boleh berteman dengan siapa. Bahkan orang toxic sering kali merenggut hak privasi dan prerogatif seseorang, seperti mensadap Whatapp, instagram, facebook, dll yang merupakan ruang privasi kita. Mereka juga seringkali mengambil keputusan tidak adil mengatur segala macam hal tentang kita, bahkan kadang kita menjadi seperti boneka yang distir kekanan dan kekiri. Sadarlah yang memiliki hak satas dirimi adalah dirimu sendiri!!!

2. Sulit Untuk Menjadi Diri Sendiri

            Karena terlalu sering dikontrol, kamu tidak dapat menjadi diri sendiri. Kamu akan selalu bersikap seperti apa yang dia inginkan, bukan apa yang kamu inginkan. Bahkan, untuk sekadar berpendapat saja kamu bisa sampai berpikir berkali-kali karena takut apa yang kamu ucapkan menjadi kesalahan di mata dia.

3. Tidak Mendapat Dukungan

            Hubungan yang sehat adalah hubungan yang selalu memberi dukungan satu sama lain. Namun pada toxic relationship, setiap pencapaian yang diperoleh akan dianggap menjadi kompetisi. Bahkan, pasanganmu bisa tidak senang jika kamu berhasil melakukan sesuatu yang seharusnya membuat ia bangga. Alih-alih mendapat dukungan dan apresiasi, kamu malah mendapatkan perkataan kasar dan kritik tidak membangun yang malah menghambat kesuksesanmu.

            Kalau kata Plato, cinta adalah dimana dua orang bisa saling berkembag. Jika kalian merasa tidak berkembang dalam pola relationship yang kalian jalani, mungkin saja baik kamu atau dia tidak saling mencintai. Mungkin saja itu hanya rasa obsesi dan rasa denial akan keterlepasan hihi.

4. Selalu Dicurigai dan Dikekang

            Rasa cemburu dalam hubungan antar pasangan sebenarnya merupakan reaksi yang normal sebagai salah satu bentuk kepedulian. Namun, hubungan akan menjadi toxic jika rasa cemburu ini berlebihan atau membuat pasangan melakukan hal yang ekstrem. Hubungan juga dikatakan toxic saat pasangan sudah terlalu posesif. Dia selalu mau tahu tentang segala kegiatan sehari-hari kamu dan akan marah jika kamu tidak segera menjawab pesan singkatnya.

            Sebenarnya dasar sebuah hubungan adalah kepercayaan, jadi kita tidak harus menjadi bodoh menutup mata dan telinga atas apa yang pasangan kalian perbuat. Lepaskanlah sebuah hubungan yang membuat kalian menangis dan merasa tertekan.

5.Sering Dibohongi

            Kejujuran merupakan salah satu pondasi untuk membentuk hubungan yang sehat. Namun, jika pasangan kamu sering berbohong dan menutupi banyak hal, itu tandanya saat ini kamu sedang berada dalam toxic relationship.

            Karena pada nyatanya kebohongan sering dianggap menjadi hal yang lumrah, kejadiannya bisa saja karena salah satu pihak terlalu posesif, dan pihak lainnya menjadi berbohong. hal seperti ini bisa juga disebut pola hubungan yang saling toxic.

6. Menerima Kekerasan Fisik

            Selain kekerasan verbal, suatu hubungan dikatakan toxic jika sudah ada kekerasan fisik di dalamnya. Pasangan yang tidak sehat secara emosional sering kali akan “main tangan” jika terjadi perselisihan dalam hubungan. Apa pun konfliknya, kekerasan fisik tidak bisa dibenarkan, ya.

            Kebanyakan seseorang yang menerima kekerasan fisik jusrtu merasa tidak bisa meninggalkan pasangan mereka karena mereka sudah terlanjur cinta mati kepada pasangan mereka. Bener nga sih? Hihi, karena logikanya mereka akan menerima apapun perlakuan dari pasangan mereka.

nga papa aku diperlakukan seperti ini, aku bisa ko merubah dia’ jujur aku muak sekali dengan kalimat bodoh seperti ini. Percayalah! Kita tidak akan pernah bisa merubah seseorang, kecuali seseorang itu mau merubah dirinya sendiri.

            Untuk kalian yang berada dihubungan yang toxic seperti ini, aku ingin berkata satu hal bagi kalian. Silahkan tentukan pilihan untuk pergi atau melanjutkan hubungan, itu pilihan kalian. Tapi di masa depan akan ada dua kemungkinan yaitu kalian akan berkata ‘keputusan meninggalkannya adalah keputusan yang paaliing tepat aku ambil, karena dengan itu aku bisa sebahagia ini’. Atau kalian akan berkata ‘aku harus melindungi anakku, aku tidak rela dia menyakiti anakku. Biar aku saja yang menderita’. Percayalah watak seseorang tidak mudah berubah.

            “terkadang kita terlalu sibuk menyelamatkan orang lain, dan kita cenderung tidak sadar bahwa diri kita sendirilah yang harus diselamatkan”.

Penulis : Nurul Ayiyah

Editor : Nurul Ayiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *