Menu Tutup

Kajian Cinta #6 Cinta dan keheningan

Karna kajian cinta kemarin membahas friendzone sebagai kader IPNU yang cupu dan gemeteran kalau ngomong di depan umum terlebih pasal cinta, aku jadi tergugah membahas ini, cinta dan keheningan, atau dalam Bahasa lain “cinta yang tak dapat mengutarakan sebab keberanian tak kunjung datang” padahal keberanian kan tidak datang begitu saja hmmmm

Kata Kahlil Gibran

“Ku sucikan bibirku dengan api suci untuk berbicara tentang cinta

Tetapi saat kubuka bibirku untuk bicara

kudapati diriku diam membisu

Aku biasa mendendangkan lagu cinta sebelum aku memahaminya

Tetapi ketika aku mengerti segala kata dari mulutku jadi tak bernilai

dan nada-nada cinta dalam dada jatuh dalam keheningan yang luruh”

bagaimana aku akan pandai mengutarakan jika denganmu saja sudah cukup menyenangkan, setiap peluh dan menyerah ini hadir cukuplah senyum dan sorot mata mu menjadi obat.

kata abu Nuwas

Duhai mata yang mempesona engkau redup selamanya

Tatapanmu menguak rahasia yang tersimpan di dada

Perhatikanlah diri kita

engkau menutupiku seakan takdir menyembunyikanku

Engkau membunuhku tanpa harapan untuk balas dendam

Seakan pembunuhan itu adalah persembahan untuk tuhan”

Tapi mungkin sepandai apapaun kita bersyair jika tidak di nyatakan akan sama saja, ya perasaan kita tidak akan tersampaikan hahaha, dan seringkali relasi friendzone ini seperti puisinya Gibran

cinta yang sebenarnya adalah Ketika kamu menitikan air mata dan kamu masih peduli terhadapnya

Adalah Ketika dia tidak memperdulikannya dan kamu masih menunggunya dengan setia

Ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata

Aku turut berbahagia…

Mungkin akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang

Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita

Melainkan karena kita sadar bahwa orang itu akan lebih bahagia

Apabila kita melepaskannya….

Cinta hanya mengajarkan aku untuk melindungimu

Bahkan dari diriku…

Adalah cinta yang terbebas dari api (maksunya nafsu)

Yang menghalangiku dari mengikutimu pergi ketempat yang jauh

Cinta membunuh hasratku

Sehingga engkau bisa hidup dengan bebas dan benar

Cinta yang terbatas mencari kepemilikan dari orang yang dicintai

Namun cinta yang tak terbatas hanya mencari dirinya sendiri

Cinta hanya mengajarkanku untuk melindungimu

Bahkan dari diriku sendiri…

Kadang kala orang yang paling mencintaimu

Adalah orang yang tak pernah menyatkan cinta kepadamu…

Karna takut engkau berpaling dan menjauh…

Lalu bila suatu saat dia pergi kau akan menyadari

Bahwa dia adalah cinta yang tak engkau sadari…

Laksana butir-butir gandum

Engkau akan diraihnya kedalam gilingannya

Ditumbuk-tumbuknya engkau sampai polos

Diketannya dirimu sampai terbebas dari kulitmu

Digosoknya tubuhmu sampai putih bersih

Diremas-remasnya dirimu sehingga mudah di bentuk

Dan akhirmnya diantarkannya dirimu kepada api suci

Laksana roti yang di persembahkan pada pesta kudus tuhan…

Tapi ya gitu kalau terlalu banyak berdiam diri menemani sebagai teman eeehhh sekalinya dinyatakan malah berujung perpisahan hmmmm

Kutulis diatas pipiku satu kalimat untuknya

Duhai beratnya saat berpisah

Ia menjawab dengan gerakan jemarinya

“kupahami pesanmu namun untuk kita tiada lagi jalan bertemu”

Karna mungkin pilihanya sesederhana dua hal, jadian dan asik banget karna pasangan semenyenangkan teman, atau awkward banget awalnya teman kemudian pisahan, atau mungkin juga enggak… nih pesan buat temen-temen yang temannya menyatakan perasaanya

Kalau gasuka jangan diterima karna itu nyesek, kalau nolak, tolak dengan baik-baik, gausah sok sok an “kamu terlalu baik untukku” nanti kalau di jahatin bahaya kaaan, kalau kalian memutuskan untuk terus berteman, bertemanlah dengan baik-baik (asal kuat kuat yah) kita tiadak pernah tahu bagaimana perlakuan orang yang dicintai berpengaruh seperti apa terhadap psikologi orang tersebut,

Atau bukan? Berharap ada tulisan balasan dari teman-teman, dariku yang menyukai teman sendiri, tidak apa-apa semenyenangkan itu jika berpasangan, tapi menjadi bencana besar jika pisahan.

Penulis: Ahmad Malawi

Editor :Ahmad Malawi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *