Menu Tutup

NU Struktural dan NU Kultural

Ilustrasi | Pelajar NU Batang

Nahdlatul Ulama. Ketika mendengar nama NU atau melihat sesuatu yang bertuliskan lafadz Nahdlatul Ulama tentu di fikiran kita akan terbayang t sosok karismatik Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’Ary. Sosok ulama yang begitu menawan akan hal keagamaanya dan begitu melekat akan hal sosio kulturalnya. Beliau bersama kyai- kyai lain yang tak kalah karismatiknya menggagas jam’iyah yang berfaham ahlussunah wal jamaah yang diberi nama Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan para ahli ilmu (ulama).

Dalam perjalannanya, Nahdlatul ulama merupakan organisasi sosial keagamaan yang sangat melekat akan hal sosio kulturalnya dengan amaliah agama islam yang berfaham ahlussunah waljama’ah. Bahkan di nahdlatul ulama, sekarang telah ada Lesbumi ( Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) yang perananya adalah mengangkat kearifan lokal budaya di indonesia yang beragam macamnya dari ujung aceh sampai ujung tanah papua.

Budaya inilah yang berpadu dengan ajaran agama islam sehingga memunculkan suatu perpaduan yang apik yang sangat relefan untuk kita korek lebih dalam.
Tak hanya dari budayanya saja, dalam tubuh Nahdlotul Ulama ada banyak yang sangat tertib dalam berorganisasi dan lebih banyak lagi yang masih dalam bentuk kultural kultural yang masih menyebar.

Nahdlotul Ualama secara struktural sudah sangat elok dan apik dalam perjalanannya, baik dari segi kegiatan keagamaan, sosial, budaya, kemasyarakatan, kerukunan, dan lain-lainnya. Nah banyak orang menganggap kontroversial ketika mendengar “ora ngalor ngidul jas jasan paha nangger egen tahlilan, manaqiban, perjenjenan li anu egen tetep NU“.

Padahal mestinya kita selalu menjaga kerukunan antara NU struktural dan NU kultural. Dan tentu dua elemen dalam satu wadah ini harus saling menguatkan dan saling bersinergi satu sama lain, karena hakikatnya mereka adalah satu. Ketika NU struktural disibukkan dengan kegiatan pelantikan, pengajian, konferensi dan lain lain tentu mereka tidak secara optimal melakukan amaliyah NU misal tahlil, manaqib atau yang lain ketika itu tidak dikonsep didalam manual acara. Disinilah peranan dari NU kultural. Mereka tidak disibukkan dengan kegiatan berorganisasi, tapi mereka selalu melakukan amaliyah ahlussunah wal jamaah tanpa adanya NU struktural, bahkan mereka melakukannya disaat mereka santai, menghisap rokok misalnya..hehehe.

NU Struktural adalah NU global atau menyeluruh, sedangkan NU kultural adalah bagian dari ruhaniyah NU global. Dalam artian bahwa NU kultural memang dianggap rentan akan serangan faham yang berseberangan dengan amaliyah Nahdlatul Ulama. Namun, NU kuktural tidak mudah diakses oleh mereka yang berfaham berseberangan. Karena apa? Nah diisinilah peranannya kyai-kyai kampung sangat besar, bahkan kalau kita mencari orang yang dituakan di jawa khususnya di daerah Batang pasti mereka kebanyakan menganut amaliyah ahlussunah wal jamaah, meski terkadang mereka tidak masuk aktif didalam kestruktural.

Bahkan disalah satu kampung ada kyai kampung mengatakan “nyong ki wes NU sak durunge kowe kowe kabeh NU NUnan” . Kenapa beliau berani berdawuh seperti itu ? Itu menandakan bahka jiwa mereka sudah berNU sejak NU dikampung itu mungkin belum se aktif sekarang . Memang terkadang koki tidak perlu menampakan batang hidungnya untuk menyajikan makanan yang enak, itulah gambaran dari NU kultural.

Kendati demikian, NU struktural dan NU kultural adalah satu yaitu Nahdlatul Ulama. Hanya berbeda dalam menerapkan pengabdian dalam ber-NU dalam berdakwah islam Rahmatal lil Alamin yang menganut faham ahlussunah wal jamaah an nahdliyah.
Semua baik, dari segi NU struktural baik, dari segi NU kultural juga baik.

Namun alangkah lebih baik lagi jika kita melakukan pengabdian dalam organisasi Nahdlatul Ulama dengan berorganisasi struktural dan aktif dalam ber-NU secara kultural. Semua saling menjaga, saling mengingatkan dan bersinergi demi berdakwah islam ramah bukan marah, islam Rahmatal lil Alamin, islam yang tidak mudah membid’ahkan suatu perkara, dan tentu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tetaplah ber-NU secara struktural dan tetaplah menjaga saudara yang masih ber-NU secara kultural. NU tanpa kita sudah besar, NU tanpa saya, kamu, dan dia tentu sudah sangat besar. Tetapi apakah kita hanya mau berpangku tangan saja melihat besarnya Nahdlatul Ulama. Jadilah pelaku sejarah jangan hanya menjadi penonton sejarah

Penulis: Reka Puji Lesmono
Editor: Munir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *