Menu Tutup

Wanita Malam, Tak Segelap yang Diotakku

Karya: AEP

Ilustrasi | Pelajar NU Batang

Sore setelah magrib itu agak gerimis rintik, hujan deras baru mengguyur teras kedai kopi sederhanaku yang ‘minimal’ dua minggu sekali ku sambangi untuk memastikan nasi kucing, sate usus dan rasa kopinya tidak berbeda.

Malam itu si Yen, wanita malam dengan paras ayu, yang masih kuyakini siapa pun terpesona melihatnya, setiap hari memang mampir ke kedaiku untuk makan atau meminta secangkir kopi susu. Ya, kopi susu hangat memang menjadi favorit minumannya, sudah cukup lama aku mengenal dirinya, setidaknya dari awal kubuka kedai di samping persis tempat kerjanya.

Hari itu, cafe sebelahku, tempat si Yen bekerja sedang banyak tamu. Jika tidak salah aku hitung, ada 4 mobil yang parkir di depan cafe itu. Namun agak berbeda, si Yen yang terkenal pemandu lagu favorit para tamu di cafe itu tidak menemani para lelaki yang ‘bertamu’ di cafenya, malah dia tidak berpakaian seperti biasa, celana jeans panjang dan jaket yang kala malam itu melekat di tubuhnya, jelas itu bukan pakaian yang biasa dipakainya.

Sebelum hari itu, Yen pernah bercerita sedikit tentang masa lalunya, bahwa dia ialah anak dari seorang petani klutuk dan ustadz kampung yang setiap minggunya mengisi kajian rutin di mushola samping rumahnya, dan sang ibu seharinya membuka jasa mencuci dan menyetrika baju bagi siapa pun yang membutuhkan jasanya. Hidup keluarganya penuh dengan kesederhanaan.

Yen pun sempat menikmati asiknya pondok pesantren saat bersekolah di madrasah tsanawiyah di tempat asalnya. Pendidikan dasar agamanya kuat, bahkan mungkin lebih baik dariku. Sebelum masuk MTS, setiap sore pun Yen rutin mengaji di TPQ yang begitu jauh dengan rumahnya.

Awalnya semua baik-baik saja, namun sejak kelas 2 SMA ayah Yen sering sakit-sakitan, sudah tak mampu untuk bekerja. Kakak perempuannya pun tak bisa berbuat banyak karena sudah bersuami. Terpaksa dia pun tamat sekolah lebih awal, bekerja untuk membayar tebusan obat ayah dan makan dia bersama ibunya.

Suatu hari ayahnya dibawa ke rumah sakit terdekat, karena dirasa semakin memprihatinkan. “Harus operasi” Kata dokter yang membuat hati Yen bergetar. Badannya pun sampai tak bisa bergerak mendengar pesan dokter kala itu, dia berpikir uang dari mana bisa didapat untuk membayar biaya yang tentunya tak sedikit. Untuk mencukupi itu, Yen rela ‘pontang-panting’ untuk bekerja seadanya, namun dia juga paham pekerjaan jasa menyetrika baju yang digelutinya tak cukup untuk membayar biasa operasi ayahnya.

Tak menyerah, Yen mencoba meminjam uang ke keluarga, sahabat, guru namun semuanya nihil dan hanya berpesan ‘sabar ya nduk‘. Yen sadar bahwa pesan kesabaran yang diberikan orang di sekitarnya bukanlah sebuah solusi. Dia masih mencoba untuk mencari siapa malaikat yang akan memberinya biaya untuk keselamatan ayahnya.

Dia pun ingat, Nili teman SMA-nya dulu. Dengan perasaan yang sudah Yen persiapkan agar tak kecewa jika jawaban Nili yang mungkin sama dengan sebelumnya, Yen mencoba untuk menghubungi Nili dengan harapan yang dia batasi agar tak kecewa ke sekian kali.

Namun, jawaban Nili tak sesuai perkiraan awal. Nili mengarahkan Yen ke salah satu orang yang kata Nili dia bisa membantu masalah yang sedang di hadapinya. Lalu Yen pun ke rumah orang tersebut dan membicarakan pelik masalah yang dideritanya sembari berharap, dialah malaikat yang dikirim Tuhan untuk membantunya.

Singkat cerita, Yen mendapat pinjaman dana dari orang tersebut, begitu bahagia hatinya pada waktu itu. ‘Ayahku mampu operasi’ kata dia dalam hati, dan benar operasi ayah Yen berjalan dengan lancar. Ayah yen terlihat semakin baik kondisi kesehatannya kala itu.

Setelahnya, Yen kembali ke rumah orang tersebut dengan maksud ingin bekerja bersamanya, karena Yen merasa bahwa dirinya tak mampu untuk membayar biaya hutang kepada orang yang dianggap malaikat oleh si Yen. ‘ya sudah, kalau kamu tak bisa bayar hutangnya, kerja saja sama aku’, masih ingat perkataan orang itu di ingatan Yen, dan Yen mengangguk pertanda mau untuk melakukan pekerjaan yang ditawarkan. ‘kerjanya mudah, hanya menemani orang nyanyi. 2 tahun kamu kerja sama aku, hutangmu lunas’. Hanya dua tahun saja, ku kira mampu untuk melakukan itu, batin Yen dalam hati.

Naas, setelah 5 bulan bekerja ternyata ayah Yen harus pergi terlebih dulu, tanpa tahu apa yang Yen lakukan selama ini hingga mampu membiayai biaya yang begitu besar. Hal itu yang Yen sesalkan sampai hari ini dan membuatnya meneteskan air mata jika mengingatnya. Almarhum ayah, Ibu, kakak dan saudaranya hanya tahu jika Yen bekerja di luar kota, bukan sebagai wanita malam pastinya.

Selama setahun terakhir, uang tambahan dari para tamu yang Yen dapatkan, ia sisihkan setengahnya untuk membantu yayasan yatim piatu yang tak begitu jauh dengan kos dia tinggal. Yen tahu, uang itu datang dari pekerjaan yang menjijikkan bagi sebagian orang, namun dia tak peduli, tetap saja dia berikan uang itu untuk yayasan tersebut. ‘untuk membayar kesalahanku pada ayahku’, jawaban sederhana saat ku tanya mengapa dia melakukan hal rutin itu setiap bulannya.

Begitu akrab Yen dengan penghuni yayasan tersebut, bahkan Yen hafal 18 nama panggilan anak yang tinggal disana, baik perempuan maupun laki-laki. Ibu panti pun selalu menyambut hangat kedatangan Yen saat sowan ke panti, pastinya tanpa tahu pekerjaan asli dari Yen setiap harinya.

Ia selalu menyembunyikan identitasnya, ia memahami jika pekerjaannya bukanlah suatu pekerjaan yang dianggap mulia oleh orang disekitarnya, bahkan dinilai kotor, jijik dan umpatan lain. Ia hanya ingin berbagi, tanpa tahu pekerjaan asli yang Yen lakoni.

Ternyata hari itu, dimana Yen duduk termenung didepan kedaiku adalah 1th tepat ayah Yen meninggal, dia menghormati kepergian ayahnya dengan sederhana, tidak menerima tamu siapapun dengan biaya berapapun.

Seminggu yang lalu, setelah masa perjanjian kerja selesai, Yen pamit dan pulang ke rumah asalnya untuk mencoba peruntungan lain. Semoga beruntung Yen, pesanku di akhir perbincangan sebelum dia berpamitan untuk pulang.

Editor: Maschun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *