Menu Tutup

Menyoal Budaya Patriarki dan Gerakan Feminisme

“Cah wadon metu bengi mesti pacaran, cah ngeweng, cah wadon ora bener!”

N/N
Ilustrasi | Pelajar NU Batang

Pasti kalian sudah sering dong mendengar hal semacam itu atau bahkan kamu sendiri pernah mengalami sendiri ketika habis keluar malam entah itu mengikuti kegiatan atau sekedar kumpulan di organisasi.

Yap betul sekali, masyarakat di Desa khususnya orang jawa masih menganggap bahwa seorang perempuan keluar malam itu jelek dan hal yang tabu, tapi beda lagi jika seseorang laki-laki keluar malam itu dianggap wajar dan biasa saja.

Nah pemahaman semacam ini disebut dengan budaya Patriarki, yaitu tatanan masyarakat yang meletakkan laki-laki lebih utama dibandingkan dengan perempuan sehingga perempuan berada pada posisi kedua atau dengan istilah Jawa perempuan itu hanya di dapur, kasur dan sumur yaitu hanya memasak, melayani suami dan pekerjaan rumah tangga lainnya sehingga posisinya tidak diperhitungkan di masyarakat.

Budaya Patriarki, Siapa yang Diuntungkan?

Jika selama ini para perempuan merasa yang paling dirugikan, mungkin ada benarnya juga, akan tetapi tidak selamanya. Sebenarnya sebagai laki-laki juga dirugikan karena laki-laki dituntut untuk selalu bekerja keras, tidak boleh lemah, sebagai tulang punggung keluarga (walaupun juga ada perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga karena keadaan tertentu), harus selalu membahagiakan keluarga, dan jika tidak bisa melakukan itu semua maka akan dianggap hina oleh masyarakat.

Hal yang demikian kadang menjadi beban moral dan pikiran oleh masyarakat, sehingga menurut sebuah penelitian kebanyakan yang berada di rumah sakit jiwa adalah laki-laki karena memang tidak bisa mengekspresikan perasaan karena tatanan masyarakat patriarki laki kaki yang menangis adalah lemah, harusya disini ada.

Perlu kita garis bawahi, masyarakat juga jangan menyamakan perempuan itu sama, mungkin juga harus diklasifikasi lagi, misal kalau perempuan masih anak-anak atau masih mengenyam bangku sekolah, masih belum menikah itu untuk aktif berorganisasi, aktif di masyarakat jangan dianggap buruk, misal pun harus keluar malam jika itu kegiatan yang kita ketahui bahwa itu positif jangan disamakan dengan perempuan yang benar benar dalam tanda kutip nakal, keluar untuk melakukan suatu yang buruk, disinilah diperlakukan nya kedewasaan oleh masyarakat.

Beda lagi kalau sudah berkeluarga, mungkin harus ada kriteria tambahan, seperti terlebih mengutamakan tugas sebagai istri dalam keluarga baru melaksanakan yang lainnya, keseimbangan itulah kuncinya. Tapi budaya patriarki di masyarakat masih sangat terasa dan disamaratakan padahal zaman sudah berada, hal semacam inilah yang ditentang oleh para pegiat feminisne.

Feminisme, Apalagi Nih?

Tentu untuk kalian yang sudah kuliah atau perempuan modern sudah sering dong dengar kata itu, atau mungkin sering ikut kajian kajian nya. Banyak buku yang membahas tentang feminisne seperti puisi karya Sappho, dalam buku The Second Sex — Simone de Beauvoir, The Feminine Mystique milik Betty Friedan, jurnal perempuan-nya gadis Arivia, dan sebagainya.

Secara sederhana Feminisme adalah Sebuah ideologi, gerakan, hingga kampanye yang mengusung ide bahwa kesetaraan gender bisa diraih dan perempuan mendapat tempat di masyarakat menjadi lebih baik. Sejarah awal munculnya gerakan ini bermula pada abad pertengahan di Eropa dimana pada saat itu gerakan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap perlakuan masyarakat dulu.

Perlu kita ketahui bersama pada abad pertengahan di Eropa bahwa suara gereja adalah kebijakan tinggi dengan segala wewenangnya? Ada dua doktrin dasar gereja yang membuat kedudukan perempuan pada abad pertengahan selayaknya binatang. Pertama, gereja menganggap wanita sebagai ibu dari dosa yang berakar dari setan. Wanitalah yang menjerumuskan lelaki ke dalam dosa dan kejahatan, dan menuntunya ke neraka.

Tertullian (150M) sebagai Bapak Gereja pertama menyatakan doktrin kristen tentang wanita sebagai berikut;

Wanita yang membukakan pintu bagi masuknya godaan setan dan membimbing kaum pria ke pohon terlarang untuk melanggar hukum Tuhan, dan membuat laki-laki menjadi jahat serta menjadi bayangan Tuhan

Sejak saat itu, isu kesetaraan muncul di Eropa kemudian merambah ke Amerika.
Kemudian gerakkan ini berlanjut pada masa perang dunia ke II dimana pada saat itu perempuan dan anak anak dipaksa secara halus untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh laki-laki saat itu.

Loh bukankah itu bagus? Tunggu dulu, perlu kita ingat bahwa sejarah itu ditulis oleh para pemenang, sebenarnya pada saat itu para pabrik kekurangan sumber daya manusia, ya karena laki laki nya pada ikut perang sehingga para kapitalis memaksa perempuan untuk melakukan pekerjaan laki laki dengan dikasih pemanis “Emansipasi Wanita” yang seakan akan perempuan dan laki-laki itu harus sama.

Lalu Bagaimana dengan Feminisme di Indonesia?

Ketika kita mendengar emansipasi wanita pasti pikiran kita langsung ke seseorang bernama Raden Ajeng Kartini, ya setiap tanggal 21 April kita dipaksa memakai kebaya tanpa mengerti makna apa sebenarnya. Tapi apakah hanya R.A Kartini saja? Tentu tidak, ada banyak sekali tokoh wanita yang juga bisa menjadi contoh seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutia bahka jauh sebelum itu sudah ada perempuan Nusantara yang memegang jabatan penting sebut saja Ratu Sima, Tribuwana Tungga Dewi dll.

Coba buka lagi buku sejarah tentang kerajaan di Nusantara. Tapi kenapa hanya Kartini saja yang terkenal? Mungkin karena beliau berasal dari keluarga ningrat sehingga punya akses sampai ke negara” barat seperti teman korespondensi nya yang ada di Belanda sana san surat itu kemudian di bukukan menjadi sebuah buku yang berjudul habis gelap terbitlah terang.

Tidak Selamanya Feminisme Itu Baik.

Kembali lagi ke sejarah munculnya gerakan ini adalah menuntut akan kesetaraan gender, yaitu di dalam bidang pendidikan, ekonomi, buruh dan masyarakat akan tetapi ada Keraguan pun muncul. Lebih lagi ketika feminis terbagi lagi menjadi beberapa aliran seperti feminis radikal, feminis liberal, feminis marxis, sampai feminis sosialis. Kok banyak amat…?

Pernah dengar LGBT? Menurut saya itu adalah sebuah pemikiran yang keblablasan, oke mungkin Kenapa orang melakukan itu karena efek traumatik entah dulu pernah mengalami KDRT, pelecehan seksual dsb. Akan tetapi itu tidak bisa menjadi justifikasi untuk melakukan LGBT kan? Itu adalah kelainan yang harus disembuhkan.

Kemudian jika seorang ibu bekerja layaknya seorang laki-laki, lalu bagaimana dengan tugas mendidik anaknya, kapan ada waktu untuk bercengkrama dengan anaknya? Siapa yang akan mendampingi anak-anak sedang ayahnya juga bekerja? Mungkin inilah kenapa sekarang para generasi muda banyak yang kehilangan jati dirinya, tidak ada sosok seorang ibu yang menjadi guru hidupnya, inilah juga mungkin sebab bobroknya moral bangsa karena ibu tidak lagi menjadi tiang negara, ayah dan ibu sibuk bekerja dengan dalih kesetaraan gender, pulang sama sama capek akhirnya ada Masalah kecil pun menjadi besar, lagi lagi anak menjadi korban akhirnya tatanan sosial pun jadi rusak, disini lah saya tidak setuju dengan Adanya kesetaraan gender yang keblablasan.

Kalaupun memang feminisme memperjuangkan hak kesetaraan mengapa masih ada perempuan karir yang menganggap wanita rumah tangga itu rendah? Harus nya kan sama rata tidak ada yang superior.

Lalu Kita Harus Bagaimana?

Dalam agama Islam, sudah banyak ayat Alquran dan hadist yang mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan bahkan menurut saya sudah lengkap panduannya, kalau belum jelas juga banyak kitab” klasik yang menerangkan tentang itu, akan tetapi jika kita tidak tuntas mempelajari makan kita akan berkesimpulan bahwa Islam tidak adil terhadap perempuan.

Sebagai contoh ketika Nabi ditanya oleh sahabat nya tentang siapa yang harus dihormati di dunia ini maka Rosulallah menjawab ibu sampai tiga kali baru ayah, ini menunjukkan betapa tingginya Drajat perempuan. Seorang wanita yang menjadi ibu rumah tangga bukan lah menjadikan dirinya hina, justru jabatan tertinggi seorang perempuan adalah ibu rumah tangga, kenapa? Karena ibu adalah guru utama untuk anak-anak.

Sebenarnya jika masing-masing sudah benar-benar paham akan tugas dan kewajiban, laki laki tahu kewajiban seorang suami, perempuan tahu kewajiban seorang istri sesuai dengan tuntunan agama tidak perlu adanya gerakan kesetaraan gender karena semua sudah ada tugasnya masing-masing dan kuncinya adalah saling Ikhlas menjalankan.

Sebenarnya sah sah saja ada ada gerakan feminisme, akan tetapi jangan sampai seorang perempuan sampai melalaikan kewajibannya sebagai mana Islam mengajarkanya. Jangan sampai kita hafal buku buku barat akan tetapi kita kurang memahami kitab agama kita, cukuplah Al Qur’an sebagai petunjuk hidup ini.

” Ketika kewajiban sudah saling dilakukan, maka tak ada hak yang akan di perebutkan”

N/N

Penulis: Slemz.sp
Editor: Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *